Maaf

April 08, 2014



setiap manusia pernah berjanji, pernah dijanjikan sesuatu oleh bukan hanya seseorang. Awalnya percaya akan janji yang dibuat orang orang itu, percaya tanpa celah. Percaya sekali. Tapi apa apa yang membuatmu percaya terlalu dalam pada akhirnya akan menyakitimu terlalu dalam pula.
Seperti anak kecil yang dijanjikan akan dibelikan sepatu baru oleh ayahnya, dan merengek keras saat sepatu baru tak kunjung ada.
Kecewa? tentu.
Tapi saya sadar saya bukan anak kecil lagi yang bisa merengek keras ketika yang berjanji tidak menepati, apa apa yang belum diikat memang bisa sewaktu waktu lepas. bahkan tak hanya lepas dan pergi. namun ia hilang. Dan disaat ia hilang, belum tentu dia merindukan. belum tentu ia ingat akan janji janjinya. Justru siapa tau dia menyimpan luka.  Luka ada karena, kita masih mengingat janjinya yang dahulu. Luka ada karena kita kecewa, kenapa janjinya yang dahulu tidak ia tepati. Pun jika ia ingat kenapa tetap seperti itu ? Baiklah. Sekali lagi saya sadar, apa apa yang dijanjikan selama belum ada ikatan memang bisa saja berujung pada ingkar. Karena selama belum ada ikatan, setiap manusia masih punya beberapa pilihan. Dan tuhan adalah maha pembolak balik hati, bagaimana saya bisa berjanji dan percaya janji pada sesuatu yang belum diikat? Ketika semua sudah berubah, janji yang dibuat bersama dahulu ketika masih berdua mungkin memang sudah tidak berlaku lagi. Jadi buat apa menuntut janji yang sudah tidak berlaku untuk ditepati? bukankah hal yang seperti itu yang justru membuat sakit hati?

Ada beberapa melepaskan yang berujung pada melegakan. Namun juga ada beberapa melepaskan yang berujung pada penyesalan. Mengerikan memang ketika yang melepaskan berujung pada kelegaan, sesalah itukah sampai sampai ketika dilepaskan justru ia merasa lega?
Tapi mengerikan juga  ketika melepaskan berujung pada penyesalan. Bisa jadi ia yang menyesal akan terus menyebut nyebut namamu, mendekte setiap bait kesalahanmu, menyebut janji janji ingkarmu, tapi masih ingin bersamamu. Mengerikan sekali bukan? Ketika ingin menatap masa depan. tapi masih ada masa lalu yang membayangi ingin kembali. Dengan segala memori yang menyayat hati, tak kuasa saya meringkuk di sudut ruang. takut.

Tapi setidaknya, terimakasih..Terimakasih sudah memberikan warna, entah itu warna yang indah temaram atau justru warna yang kelam. Terimakasih sudah memberikan setitik bahagia pun jika akhirnya juga berujung duka. Terimakasih sudah membuat saya menghargai arti sendiri, yang jauh lebih baik daripada berdua tapi berlomba lomba untuk siapa yang lebih tersakiti. Terimakasih untuk setiap pelajaran, kenangan, yang memang susah dilupakan. Terimakasih karena sudah pernah ada. Dari setiap hal yang telah terjadi, saya bersabar sabar untuk belajar menguasai suatu sifat bernama ikhlas. karena ikhlas adalah sebaik baiknya obat untuk mengiringi sebuah kehilangan. iya bukan?

Maaf. karena dilangkah-langkah saya pasti ada yang tersakiti meskipun sebenarnya bukan itu yang dimaksud hati. Semoga luka yang ada tidak tumbuh menjadi benci. Semoga maaf bisa menghapus setiap salah bagi yang khilaf telah mengkhianati.

karena...

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya. Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.”
*Tere Liye, novel "Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin"


semoga bahagia

You Might Also Like

2 tanda tangan

Tanda tangan berupa ketikan komentar di perbolehkan. GRATIS! ^^

Entri Populer

Challenge

@khoirurosida on Instagram